in: Featured - Reviews | May 28, 2018 | by: Yufianto Gunawan

Review Smartphone Asus ZenFone 5 (ZE620KL)

Spesifikasi

ASUS menawarkan SoC kencang untuk kelas menengah yang baru marak digunakan beberapa bulan terakhir ini, dari Qualcomm, yaitu Snapdragon 636. SoC tersebut mengusung CPU Kryo 260, GPU Adreno 509, DSP Hexagon 680, serta dukungan untuk RAM LPDDR4 1333 MHz dual-channel. Kryo 260 sendiri hadir dalam konfigurasi 4x Kryo 260 1.8 GHz untuk cluster “performance” dan 4x Kryo 260 1.6 GHz untuk cluster “efficiency”. SoC tersebut menggunakan litografi 14 nm.

Varian yang kami terima untuk pengujian kali ini mengusung RAM 4 GB dan storage internal 64 GB. RAM 4 GB bisa dikatakan sudah sangat memadai untuk smartphone di era saat ini, dan seharusnya akan bisa memenuhi berbagai kebutuhan yang ada dengan baik. Sementara untuk storage internal 64 GB, kapasitas ini sudah bisa dikatakan cukup besar untuk kelas menengah. Namun, melihat kebutuhan penggunaan smartphone saat ini, kapasitas itu mungkin bisa saja dirasa kurang, terutama bila pengguna banyak mengambil foto dan video resolusi tinggi. Bila masih dirasa kurang, ZenFone 5 ini bisa menampung Micro SD hingga kapasitas 400 GB. Namun, penggunaan Micro SD akan mengorbankan slot Nano SIM kedua karena desain tray hybrid yang diusung.

Beralih ke layar, ASUS ZenFone 5 menawarkan resolusi 2246 x 1080 piksel, dengan rasio 18.7:9. Dengan ukuran layar 6.2″, resolusi tersebut membuat smartphone ini menawarkan kerapatan piksel mencapai sekitar 400 ppi. ASUS memilih untuk menggunakan panel IPS untuk smartphone ini, karena lebih mudah dikonfigurasi untuk menampilkan warna yang sesuai untuk kebutuhan fotografi. Sesuai informasi dari ASUS, layar di smartphone ini mendukung tampilan warna 95% dari standar DCI-P3.

Baterai dengan kapasitas 3300 mAh dihadirkan ASUS untuk ZenFone 5 (ZE620KL) ini. Rating kapasitas 3300 mAh memang cukup umum digunakan di smartphone kelas menengah ke atas saat ini. Memang, belum bisa dikatakan besar, tetapi dengan optimasi yang baik serta SoC dengan litografi 14 nm, smartphone ini masih mungkin menawarkan daya tahan yang baik. Mari kita lihat dalam pengujian, seperti apa daya tahan yang bisa ditawarkan oleh smartphone ini.

Kamera utama dengan konfigurasi dual-camera dihadirkan ASUS untuk ZenFone 5 ini, dengan sensor 12 MP f/1.8 + 8 MP f/2.0. ASUS membekali kamera utama smartphone ini dengan fitur phase-detection auto-focus (PDAF), gryo EIS (electronic image stabilization), serta Dual-LED Dual-Tone Flash. Sementara untuk kamera selfie, tersedia sensor 8 MP dengan f/2.0 dengan gryo EIS.

Kemampuan perekaman video yang terbilang menarik dihadirkan ASUS untuk kedua sistem kamera smartphone ZenFone 5 ini. Kamera utama smartphone ini bisa melakukan perekaman video hingga 120 fps di resolusi 720p dan 1080p, serta tentu saja video 4K UHD. Sementara untuk kamera utama dan kamera selfie, ASUS juga menawarkan perekaman video dengan rasio 18:9, di resolusi 2160 x 1080 piksel.

Dari sisi konektivitas, 4G LTE sudah pasti ditawarkan oleh smartphone ini, dengan dukungan untuk LTE Band yang digunakan oleh operator seluler di Indonesia. Sementara untuk WiFi, ASUS menawarkan dukungan untuk WiFi dual-band, dengan standar 802.11 a/b/g/n/ac. Opsi konektivitas lain yang tersedia di smartphone ini adalah Bluetooth 5.0 dan NFC. Ya, ASUS akhirnya menawarkan NFC di smartphone kelas menengah mereka!

Jajaran sensor yang terbilang lengkap dihadirkan ASUS di ZenFone 5. Sensor-sensor standar yang seharusnya ada di smartphone kelas menengah, termasuk accelerometer, gryoscope, proximity sensor, orientation sensor, serta magnetometer tersedia di smartphone ini. Selain itu, ASUS juga menawarkan pedometer, step counter, dan motion detector. Beberapa sensor tersebut digunakan ASUS untuk mendukung fitur tambahan yang mereka sertakan di smartphone ini, seperti EIS yang memanfaatkan gyroscope, serta beberapa fitur ZenMotion yang memanfaatkan beberapa sensor yang ada. Tersedia juga fingerprint scanner, yang selain digunakan untuk mendukung fitur keamanan smartphone juga bisa dimanfaatkan untuk gesture input, untuk membuka menu navigasi smartphone.

Sistem operasi yang digunakan di ZenFone 5 ini adalah Android 8.0 Oreo, dengan ZenUI 5.0. ZenUI 5.0 sendiri tampaknya dibangun ASUS agar menjadi UI yang ringan, tidak memberikan banyak beban terhadap smartphone secara keseluruhan. Namun, masih ada beberapa fitur tambahan, yang sebagian cukup menarik, yang disertakan ASUS di ZenUI 5.0 ini. Beberapa fitur tambahan tersebut akan kami bahas di bagian terakhir dari artikel review ini. Sejauh ini, belum ada informasi dari ASUS terkait sampai kapan mereka akan menghadirkan update sistem operasi untuk ZenFone 5. Namun, besar kemungkinan update ke Android P masih akan tersedia.

Uji Performa

Untuk ZenFone 5 ini, ASUS menyediakan fitur yang disebut sebagai AI Boost. Fitur ini memungkinkan smartphone untuk memanfaatkan komponen-komponen di SoC dalam mode heterogeneous computing, sehingga kinerja CPU bisa didorong lebih jauh lagi. Sebagai imbasnya, karena lebih banyak komponen dalam SoC yang bekerja, mode ini akan membuat baterai sedikit lebih boros. Namun, mode ini tentu saja menarik, terlebih karena ASUS menyebutkan bahwa performa yang ditawarkan dalam mode AI Boost ini akan cukup jauh di atas performa standar Snapdragon 636.

Melihat hal tersebut, kami melakukan pengujian baik dalam mode AI Boost On maupun AI Boost Off untuk melihat sejauh apa peningkatan performa yang ditawarkan. Hasil pengujian dalam kedua mode tersebut akan kami tampilkan dalam grafik perbandingan hasil pengujian. Berikut ini adalah hasil pengujian ZenFone 5, dalam dua mode, beserta beberapa perangkat dengan berbagai SoC yang kami pilih sebagai pembanding.

AnTuTu

Aplikasi benchmark yang satu ini adalah salah satu yang paling banyak digunakan untuk mengukur performa sebuah perangkat Android. AnTuTu menjalankan set pengujian untuk penilaian performa perangkat yang dibagi ke dalam empat kelompok, yaitu Graphics, CPU, UX (User Experience), dan RAM. Di pengujian kali ini, kami menggunakan dua versi AnTuTu, yaitu AnTuTu 6.0.1 dan AnTuTu 7.0.

Geekbench

GeekBench merupakan benchmark cross platform yang mengukur kinerja prosesor sebuah perangkat smartphone, tablet, dan PC. Aplikasi ini menggunakan berbagai algoritma komputasi yang banyak digunakan di skenario real world sehingga mampu menganalisa performa sebuah prosesor saat menggunakan single core atau multi core. Kami menggunakan dua versi Geekbench, yaitu Geekbench 3 dan Geekbench 4.

3DMark

Benchmark ini ditujukan untuk menguji performa dari sistem pada sebuah smarpthone Android dalam menangani pemrosesan grafis. Semakin tinggi hasilnya, semakin baik smartphone tersebut menjalankan proses grafis. Tes yang dijalankan adalah Ice Storm Unlimited & Sling Shot Unlimited.

GFXBenchmark

Benchmark ini juga digunakan untuk melihat gambaran kemampuan dari sebuah smartphone dalam menangani pemrosesan grafis. Ada beberapa scene yang tersedia, yang masing-masing menawarkan beban yang berbeda, dan juga beberapa dengan API yang berbeda, sehingga benchmark ini kami anggap bisa mewakili gambaran performa smartphone dalam hal gaming. Tes yang kami jalankan adalah T-Rex dan Manhattan ES 3.1 1080p.

PCMark

Aplikasi benchmark ini mengukur performa smartphone maupun tablet Android, lewat pengujian yang berbasis aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan oleh user, bukan algoritma yang bersifat abstrak. Skor yang dihasilkan diklaim mampu mencerminkan performa sesungguhnya dari perangkat tersebut. Tes yang kami jalankan adalah Work 1.0 dan Work 2.0.

Tanpa menggunakan AI Boost pun, performa yang ditawarkan oleh Snapdragon 636 sudah bisa menghadirkan performa yang terbilang tinggi ke ZenFone 5. Di sebagian besar pengujian yang kami lakukan, ketika dibandingkan dengan hasil benchmark berbagai SoC kelas menengah yang kami miliki, ZenFone 5 menawarkan performa tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa hadirnya SoC ini di smartphone baru ASUS ini mampu meningkatkan daya tariknya, membawa performa smartphone kelas menengah makin tinggi lagi, jauh di atas smartphone kelas menengah ASUS sebelumnya, yang banyak menggunakan SoC Snapdragon 625.

Sementara, ketika AI Boost aktif, di banyak benchmark di mana CPU menjadi bagian yang banyak mendapatkan beban, hasil benchmark terlihat meningkat, dari kisaran ~ 5% hingga ~ 20%. Namun, peningkatan itu tidak didapatkan di benchmark dengan beban ke GPU, seperti 3DMark Sling Shot dan kedua benchmark GFX Bench yang kami gunakan. Hal ini memberikan gambaran bahwa dengan AI Boost, ASUS memanfaatkan GPU di SoC untuk membantu CPU melakukan perhitungan ketika GPU tidak mendapatkan beban. Saat GPU mendapatkan beban, otomatis GPU tidak lagi bisa membantu CPU, sehingga skor benchmark yang didapat kurang lebih berada di kisaran yang sama.

Daftar Isi
Pages: 1 2 3 4
: , , , ,

COMMENTS