Uni Eropa Ingin Android Lebih Terbuka Lagi
Android kembali jadi sorotan di Uni Eropa setelah statusnya sebagai gatekeeper dalam aturan Digital Markets Act mulai diuji lebih jauh. Komisi Eropa menilai sistem ini masih belum cukup terbuka, terutama untuk layanan AI dari pihak ketiga. Perhatian utamanya mengarah ke bagaimana Google mengelola fitur AI di dalam ekosistem Android.

Fitur-Fitur Android Masih Terikat Layanan Google
Beberapa fungsi penting masih terikat ke layanan milik Google sendiri seperti Gemini. Contohnya terlihat pada shortcut long-press di navigation bar yang langsung memanggil fitur AI bawaan. Akses seperti ini belum tersedia secara setara untuk developer lain yang ingin menghadirkan layanan serupa.
Hal yang sama juga terjadi pada sistem wake word seperti “Hey Google” yang hanya bisa digunakan oleh layanan bawaan. Komisi Eropa ingin membuka peluang agar aplikasi AI lain bisa punya perintah suara sendiri. Ini dianggap penting supaya pengguna punya pilihan yang lebih luas saat memakai perangkat mereka.
Baca Juga: Redmi Pad 2 9.7 Inci Resmi Dirilis: Pakai Snapdragon 6s Gen 2 4G, Layar Lebih Ringkas
Masalah lain muncul dari akses data aplikasi dan sistem di dalam perangkat. Saat ini, izin seperti AppSearch hanya diberikan ke asisten default dan tidak bisa diakses oleh layanan pihak ketiga. Padahal, akses ini dibutuhkan untuk menghadirkan AI yang bisa memahami konteks dan menjalankan tugas secara langsung.
Google sendiri tidak tinggal diam dan menyampaikan kekhawatirannya terhadap usulan tersebut. Mereka menilai kebijakan ini bisa berdampak pada privasi pengguna serta meningkatkan biaya pengembangan. Menarik untuk dilihat, apakah Android akan benar-benar berubah lebih terbuka, atau justru tetap mempertahankan kontrol seperti sekarang.

















