Review vivo X300: Non-Pro Naik Kelas!

Ini vivo X300! Ini smartphone flagship compact terbaru dari vivo!
Ukuran layarnya 6.31”. Tebalnya juga cuma 8.0 mm. Bodi smartphone ini jadi terasa ringkas. Tapi, dalam bodi ringkas tersebut tersembunyi monster nih! Ada Dimensity 9500, salah satu SoC terkencang saat ini. Ada 6040 mAh BlueVolt Battery yang mendukung 90W FlashCharge serta Wireless FlashCharge! Ada juga sistem kamera utama Co-Engineered with ZEISS, termasuk di antaranya 200MP ZEISS Main Camera! Rating ketahanannya juga luar biasa, IP68 + IP69! Smartphone ini juga pakai OS baru, OriginOS 6 dengan basis Android 16!

Fiturnya? Banyak sekali! Langsung saja, kita kupas tuntas kemampuan dari smartphone ini!
vivo X300, smartphone flagship ini hadir resmi ke Indonesia bersama vivo X300 Pro. Tentunya, X300 ini diposisikan di bawah X300 Pro ya, yang berarti harganya juga lebih terjangkau.
Tapi, apa saja bedanya? Apa cuma beda ukuran saja? Langsung saja kita kenalan dengan vivo X300 ini, mulai dari paket penjualannya.
Paket Penjualan

- unit vivo X300 dengan screen protector yang sudah terpasang
- Charger 90W FlashCharge
- Kabel USB-C
- Case
- SIM Tray Ejector
- dan Paket Dokumen
Ini paket penjualan khas vivo ya.
Desain vivo X300

Secara umum, penampilan smartphone ini memiliki kemiripan dengan pendahulunya, X100 dan X200. Ini terlihat di desain modul kamera berbentuk lingkaran dengan logo ZEISS di tengah.

Di luar modul kamera, ada beberapa hal yang berbeda. X300 ini mengusung gaya serba flat. Jadi, layar, frame, dan bodi belakang smartphone ini flat. Ini berbeda dengan X100 Series dan X200 Series yang punya layar dan bodi belakang curved. Tapi, area pertemuan antara frame dengan layar dan bodi belakang terlihat dibuat lebih halus, dengan gaya Rounded Corners.
Ini membuat bodi smartphone jadi terasa tidak punya sudut siku kasar, membuatnya terasa lebih nyaman saat digenggam.

Nah, untuk bodi belakang, ini menggunakan Unibody 3D Glass Design, menghadirkan kesan minimalis, tapi tetap durable. Ada juga tekstur frosted di permukaan bodi belakang, yang dihasilkan dari Coral Velvet Glass Technique. Ini menghasilkan permukaan yang halus dan bersih, bebas bekas minyak dari jari kita. Secara umum smartphone ini memang terlihat premium. Untuk frame, ini pakai aluminum. Metal frame ya.
Terkait pilihan warna, ada Phantom Black, Halo Pink, dan yang kami pegang ini warna Mist Blue.
Untuk dimensinya:

- Tinggi 150.6 mm
- Lebar 71.9 mm
- Ketebalan 8.0 mm
Memang terbilang cukup ringkas ya. Bodinya juga masih relatif tipis. Sementara untuk bobot, sekitar 190 gram.

IP68 menunjukkan kalau smartphone ini aman kecemplung air, sementara IP69 menunjukkan ketahanan terhadap semprotan air bertekanan tinggi dengan suhu tinggi. Tapi, ingat ya, ini bukan berarti smartphone ini bisa diajak berenang atau sengaja dicuci dengan semprotan air. Proteksi ekstra di sini lebih ke arah untuk jaga-jaga saja.


Sisi Kanan: tombol power, tombol volume up/down
Sisi Atas: microphone, speaker
Sisi Kiri: kosong
Sisi Bawah: SIM Tray (2 Nano SIM), microphone, USB C, speaker.
Terlihat juga ada beberapa plastic tab di sekeliling frame. Ini tentunya untuk antena. Suatu hal yang umum dijumpai di smartphone dengan metal frame. Sementara untuk speaker, terlihat ada stereo speaker di smartphone ini. Terkait kualitas suaranya, terbilang cukup rapi.

Mid terasa relatif dominan, dengan bass tipis dan treble yang mencukupi. Jadi, kita memang belum bisa berharap suara menggelegar dengan bass yang bulat dan dalam. Separasi suara juga terasa agak kurang. Sedikit berharap kualitas suara secara umum bisa sedikit lebih baik lagi. Tapi, secara umum kualitasnya akan terasa memadai untuk banyak orang.

Sementara untuk volume, sudah terbilang cukup lantang. Saat volume ditingkatkan ke sekitar 90% sampai 100%, terasa ada sedikit penurunan kualitas suara. Tapi, di volume sekitar 80% – 85% pun, volume suara yang dihasilkan sudah terbilang memadai untuk penggunaan pribadi.
Sisi Depan:

- Layar 6.31”, Compact Flat Screen, ZEISS Master Color Display
- Panel 8T LTPO AMOLED
- Resolusi 2640 x 1216 px. Ada juga opsi untuk mengatur resolusi layar ke 1080p.
- Refresh Rate up to 120 Hz.
Ada UltraMotion yang menghadirkan refresh rate adaptive. Bahkan, ini bisa turun sampai 1 Hz saat tidak ada aktivitas di layar. Saat nonton konten dengan frame rate 30 fps, refresh rate layar juga bisa turun ke 30 Hz. Tapi ini belum bisa stabil terus di 30 Hz. Refresh rate masih naik-turun 30 Hz – 60 Hz.

- Brightness: vivo menyebutkan full screen peak brightness yang ditawarkan bisa mencapai 2000 nit.
Saat kami coba tes, untuk penggunaan indoor, brightness bisa mencapai sekitar 625 nit. Terang. Sementara untuk simulasi outdoor, bisa mencapai 2100 nit. Sudah terbilang terang sekali untuk penggunaan di luar ruangan. Ini sudah sesuai dengan janji vivo ya. Malah sedikit di atas janjinya.
- Color Gamut: ada 3 pilihan Color Mode, yaitu Natural, Professional, dan Bright. Saat kami coba tes, mode Natural dan Professional sama-sama menawarkan gamut coverage di sekitar 95% sRGB dengan gamut volume di 98% sRGB.


Sementara untuk Bright, saturasi warna seperti dilepas, membuat warna jadi terasa “gonjreng” banget. Untuk sRGB, gamut coverage-nya 100%, dengan gamut volume di 159%. Sementara untuk DCI-P3, gamut coverage di 99%, dengan gamut volume di 112.9%. Saturasi warnanya tinggi sekali. Sayangnya, belum ada mode yang diatur agar lebih dekat ke 100% DCI-P3. Nah, melihat karakter ketiga mode tersebut, untuk edit warna di foto atau video, kita sebaiknya pakai mode Natural atau Professional ya.
- Layar ini juga disebut sebagai vivo Eye Care Display, dengan 2160 Hz Full Range Luminance PWM Dimming.
Ini disebut memungkinkan smartphone menawarkan eye protection optimal.

- Untuk bezel, ini disebut sebagai Ultra Slim Symmetrical Bezel, relatif simetris di keempat sisi layar. vivo menyebut tebal bezel ini hanya 1.05 mm.
- Layar ini juga menggunakan Reinforced Glass untuk durabilitas ekstra.

- Ada sensor 3D Ultrasonic Fingerprint Scanning. Ini bisa menawarkan pengenalan sidik jari yang akurat dan sangat cepat.
- Lalu, ada juga earpiece di bezel atas layar.

- Ada 50 MP ZEISS Wide-Angle Front Camera, ekuivalen 20 mm.
- Kamera selfie ini ditempatkan di punch hole di area tengah atas layar.
- Sensor Isocell JN1
- f/2.0, AF
- Perekaman video sampai 4K60.
Sisi Belakang:

- 200 MP ZEISS Main Camera, ekuivalen 23 mm
- Sensor Isocell HPB 1/1.4”
- f/1.68, AF, OIS
- Teknologi VCS 3.0
- Menggunakan Super Blue Glass dengan ZEISS T* Coating. Jadi, wajar ya kalau ada logo “T*” di area modul kamera ini.
- Perekaman video hingga 4K120, 1080p60.

- ZEISS APO Telephoto Camera, ekuivalen 70 mm
- 50 MP, Sony LYT-602
- f/2.57, AF, OIS
- Perekaman video hingga 4K 60 FPS.

- ZEISS Ultra Wide-Angle Camera
- 50 MP, Isocell JN1
- f/2.0, AF
- Perekaman video hingga 4K 60 FPS.
- Ada infrared blaster di area modul kamera ini, tepatnya di area kanan bawah.
- Lalu, ada juga juga satu lubang microphone.
- LED Flash ditempatkan di luar area modul kamera, tepatnya di kiri atas bodi belakang. Ini disebut sebagai Adaptive Zoom Flash, dengan Hardware Fill Light untuk dua focal length, 22 mm dan 50 mm.
- Fitur: ada banyak sekali! Ada Stage Mode 2.0, AI Landscape Master dengan Weather Filter, ZEISS Natural Portrait, Snapshot, Landscape & Night, Ultra Stabilization, 4K60 Portrait Video, Pano, Ultra HD Documents, Slo-mo, Time Lapse, Pro (Photo & Video), LOG, Eco Mode, Supermoon, 200MP High Resolution Portrait, AI One-Shot Multi-Crop, dll.













