TECNO Pamer Konsep Smartphone Modular di MWC 2026
Di Mobile World Congress 2026, TECNO membawa satu konsep aksesori modularnya. Namanya Modular Magnetic Interconnection Technology.

Konsep ini cukup sederhana, smartphone tidak lagi dipaksa menampung semua komponen di dalam satu bodi. Kalau butuh baterai ekstra, kamera tambahan, atau lensa telefoto, pengguna cukup menempelkan modul ke bagian belakang perangkat lewat sistem magnetik yang terintegrasi.
Sebenarnya, ini juga bukan yang pertama kalinya di industri smartphone. Dulu kalau kalian ingat, Motorola juga sempat menghadirkannya di sekitar tahun 2017, walaupun mungkin jumlah modul yang ditawarkan berbebda,
Rangkaian Modul Smartphone TECNO
Modul yang dipamerkan cukup beragam. Ada baterai yang bisa ditumpuk untuk menambah kapasitas daya, ada kamera aksi, sampai modul lensa telephoto untuk kebutuhan fotografi jarak jauh. Semua masuk dalam satu paket yang disebut Customizable Modular Suite.
Pendekatannya terasa lebih realistis dibanding konsep modular lama yang cenderung rumit. Smartphone tetap ramping saat dipakai harian. Begitu ada kebutuhan spesifik, misalnya merekam aktivitas luar ruang atau mengambil foto dengan zoom lebih jauh, modul tinggal dipasang. Sistemnya dirancang agar perangkat langsung mengenali aksesori yang ditempel, tanpa konfigurasi yang merepotkan.
Baca Juga: Snapdragon Wear Elite Dikenalkan di MWC 2026 • Jagat Gadget
Menariknya, fungsi yang butuh daya besar justru dipindahkan ke modul eksternal. Jadi beban tidak sepenuhnya ada di perangkat utama. Ini cukup relevan di era AI, ketika komputasi semakin berat tetapi orang tetap ingin smartphone yang tipis dan ringan.
TECNO juga menampilkan dua gaya desain untuk teknologi ini. Versi ATOM tampil lebih rapi dan terstruktur. Sementara versi MODA dibuat lebih ekspresif dengan nuansa geek yang kuat. Secara visual, keduanya mencoba menunjukkan bahwa modular bukan berarti kaku atau terlihat seperti perangkat eksperimental.

Konsep seperti ini belum ada yang benar-benar bertahan di pasar. Namun kali ini modularitas dikaitkan langsung dengan kebutuhan komputasi AI yang terus berkembang. Jadi mungkin bisa menawarkan sesuatu yang berbeda.
Kalau nanti benar-benar diproduksi massal, pertanyaannya bukan lagi soal teknologinya siap atau tidak, tetapi apakah pengguna mau kembali ke ide smartphone yang bisa “dirakit” sesuai kebutuhan. Menurut kalian, model seperti ini terasa praktis atau justru menambah ribet?














